
Jadi bagi kami, Maqom kedelapan ini sebenarnya bukan sesuatu yang bersifat khusus atau istimewa, sebab pada ujungnya nanti, apabila seluruh Risalah yang telah dipertaruhkan oleh Allah Swt terhadap diri kita ini tersingkap dan nyata dengan senyata-nyatanya, maka semuanya akan lebur dan lenyap dengan sendirinya kembali kepada pemaknaan awalnya yaitu hanya sebatas sebutan saja.
Maqom kedelapan, disebut juga dengan Maqom perjalanan Syara’ul Hisab, dengan Nas Qur’annya berbunyi :
” Huwal Awwalu man kholakallahu ta’ala An Nur ”
Kitab Hadits Qudsy Bayanullah
Kitab Hadits Qudsy Bayanul Insan, dan
Kitab Hadits Qudsy Bayanullah Hurubiyin, yang 3 Jilid dan terhimpun didalam Kitab Barencong kepunyaan Datu’ Sanggul dari Tanah Muning, tatakan Rantau ,Kalimantan Selatan.
Dimaksudkan agar dapat kiranya kita menyempurnakan asal kejadian diri, asal kejadian dari agama Nabi Muhammad Saw, dan asal kejadian dari pada pengenalan diri (Mengenal Allah Swt)
Sebab barang siapa, Ia tidak mengetahui akan asal muasal kejadian dirinya, maka tidaklah di pandang syah atau sempurna sekalian amal ibadahnya .
Inilah maqom Khas atau maqom Rahasia, yaitu Rahasia perjalanan Ilmu Haq Allah ta’ala atau dapat juga kita menyebutnya dengan sebutan Maqom perjalanan Baginda Rosulullah Saw, kedudukannya satu tingkat diatas Maqom ke-tujuh, yaitu maqomnya orang-orang Laduni didalam perjalanan 99.
Disebut ” Maqom Rahasia Perjalanan Ilmu Haq Allah ta’ala ”, oleh karena pada Maqom ini yang dibahas, dibicarakan dan dikupas adalah mengenai suatu Risalah yang Haq, apa sesungguhnya yang telah dipertaruhkan oleh Allah Swt atas diri kita ini, siapa Allah Swt itu sesungguhnya ...?, dan ......siapa diri kita ini sebenarnya...?.
Allah Swt telah berfirman didalam Al-Qur’an :
” Aku Ciptakan Manusia itu dalam bentuk yang paling sempurna lagi mulia,namun apabila Ia ingkar kepadaku, maka akan Aku lemparkan ia pada tempat yang paling hina, bahkan amat hina dari yang hina ”
Kecelakaan besar dan rugi besarlah sesungguhnya diri kita ini apabila selama ini kita menyaqini sesuatu, sementara apa yang kita yaqini itu sesungguhnya salah dan keliru, menganggap Tuhan apa yang sebenarnya bukan Tuhan, mengangkat saksi sementara yang kita persaksikan itu sendiri kita tidak tahu, dan seterusnya...dan seterusnya.
Jika ini yang terjadi, maka kitalah orang yang munafiq, kitalah orang yang ingkar sesungguhnya, artinya Rukun Iman dan Rukun Islam kita LAYAK UNTUK DI PERTANYAKAN silahkan Anda renungkan kembali....!
Kemudian dikatakan ” Maqom Perjalanan Baginda Rosulullah Saw ”, oleh karena kita meyaqini dengan sepenuh hati bahwa Agama yang dibawa oleh Rosulullah Saw adalah benar dan sempurna, yaitu Islam ( agama Fitrah).
Allah Swt telah berfirman didalam Al-Qur’an :
( QS : Ali Imran, 85 )
( QS : Ali Imran, 19 ).
Jika diatas tadi disebutkan bahwa maqom ini adalah Maqom Perjalanan Baginda Rosulullah Saw, maka jelaslah bahwa sudah bahwa setelah Maqom ini tidak akan ada Maqom lagi , artinya inilah Maqom yang terakhir, karna Rosulullah Saw sendiri dijahirkan kemuka bumi ini adalah sebagai penutup para Nabi dan Rosul, bahkan lebih dari pada itu, yaitu sebagai Rahmat bagi semesta Alam.
Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an :
“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosulullah itu Suri Tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah, dan (kedatangan) Hari Qiyamat dan ia banyak menyebut (nama) Allah “.
(QS, Al-Ahzab : 21).
Materi didalam maqom kedelapan sangat simpel, karna hanya ada 2 masalah pokok saja yang harus kita ketahui sepanjang usia kita, terlebih lagi disaat-saat menjelang ajal :
Pertama, yaitu penyampaian Risalah Rahasia Diri yang sebenar-benarnya diri kita, Risalah inilah yang akan disampaikan pertama kali, disaat kita akan memulai perjalanan batin, dengan ber-halarat (duduk diatas kain putih yang ukurannya sama dengan ukuran tubuh kita jika kelak kita akan kembali kehadirat Allah Swt). Kain Putih disini hanya sebagai perlambang saja, yaitu lambang kesucian, karna Risalah yang akan disampaikan saat itu adalah suatu Risalah yang bersifat suci, sedangkan mendudukinya itu, bermakna kematian... maksudnya meninggalkan seluruh sifat-sifat kemanusiaan yang ada pada diri kita dan kita meyaqini betul bahwasannya seluruh yang kita miliki ini sesungguhnya bukan milik kita semata akan tetapi milik Allah Swt, untuk itu wajib kiranya kita kembalikan semua itu kepada-Nya. La haula walaa quwwata illaa billaah.
Kedua, yaitu penyampaian Nama Tuhan yang sebenarnya, yang dikomunitas kami, disandikan dengan ” Air Setitik ”. Penyampaian atau penjatuhan Air Setitik ini pun hanya dapat disampaikan 2 kali saja dalam kurun waktu 1 tahun dan penjatuhan Air setitik ini pun hanya dapat disampaikan 2 kali saja ,yaitu pada malam Nisfu Sya’ban dan malam Wukuf Arafah, tidak ada waktu dan hari yang lain selain dikedua waktu itu.
Adapun pokok-pokok Risalah atau jalan untuk sampai pada pengenalan akan diri yang dimaksud, adalah :
1. Mengenal asal muasal diri.
2. Mengenal diri yang sebenar-benarnya diri, dan
3. Mematikan diri.
Ketiga masalah tersebut diatas itu merupakan komponen-komponen utama yang harus dilalui secara berurutan dan Ia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan.
Bagaimana mungkin kita bisa mengenal akan diri, kalau sekiranya kita sendiri tidak tau, darimana dan bagaimana sesungguhnya asal muasal kejadiannya, begitu pula selanjutnya, bagaimana mungkin kita dapat mengenal akan diri jika didalam diri kita itu masih bersemayam nafsu-nafsu ke-aku-an, silahkan anda renungkan sendiri.
ARTI DAN MA’NA LAMBANG
Mengenai Arti dan Ma’na pada lambang atau logo ” Air setitik ” juga sebenarnya tidak terlalu khusus dan istimewa, hanya sebatas isyarat atau perlambang saja yang menerangkan tentang tingkat emosional seseorang didalam mengekspresikan akan maksud dan tujuan yang akan dicapainya, yaitu Hakekat kesempurnaan hidup yang sebenarnya.
Namun bagi seseorang yang memang sengaja mengkhususkan diri untuk berlayar mengarungi Samudra Rahasia, maka bisa saja Isyarat dan perlambang itu dijadikan satu media untuik menangkap pesan yang terkandung didalamnya.
Pada lambang atau logo tertulis kata ” Maqom, Angka 8 dan huruf Alif ”
Maqom artinya suatu kedudukan atau tingkatan ilmu tertentu didalam mengadakan suatu perjalanan bathin yang panjang dan melelahkan, sedangkan angka 8 menerangkan akan kedudukan, tempat dan martabatnya, yaitu pada tingkat yang kedelapan sebagaimana yang telah dijelaskan diatas tadi.
Didalam perjalanannya, Maqom kedelapan menghimpun semua perjalanan, dari perjalanan yang berada ditingkatan yang paling bawah (tingkat Awam atau syareat) hingga sampai pada tingkatan yang paling tinggi yaitu Ma’rifat dan menyatukannya didalam satu ”UJUD” yang didalam gambar atau logo, disandikan dengan huruf Alif ( berdiri tegak dan tunggal ).
Berdiri tegak dengan ujung-ujungnya mengarah keatas dan kebawah, keatas menguasai 7 petala langit dan mengadakan sebuah Nama, yaitu Nama Awal-awal Nur Muhammad yang disandikan ZZH.
Dan kebawah menguasai 7 petala bumi dan mengadakan sebuah Nama, yaitu Nama Awal-Awal Ummat yang disandikan ANTF.
Tunggal artinya tidak berbilang-bilang (Esa), jika kenyataannya ia berbilang- bilang maka itu adalah karna yang tunggal itu menyifatkan diri, sehingga otak dan hati serta fikiran kita melihatnya menjadi berbilang-bilang, beraneka ragam bentuk dan warna, Berkaum-kaum, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa namun sesungguhnya yang tampak banyak itu pada hakekatnya satu jua adanya.
” Pandang olehmu yang banyak itu kepada yang satu dan pandang pula olehmu yang satu itu kepada yang banyak, maka pandanganmu akan mengarah dan terhenti pada pemandangan yang satu kepada yang satu saja, itulah pandangan yang sempurna dan benar atas dirimu ”
Pada lambang atau logo terdapat ”Gambar dua (2) buah telapak kaki, posisi sejajar menghadap keatas dan berwarna putih”. 2 buah telapak kaki, melambangkan sebuah perjalanan. Posisi sejajar, melambangkan keseimbangan, yaitu keseimbangan, antara jahir dan bathin, manusia dan alam, kebaikan (Haq) dan keburukan (bathil), dunia dan akhirat. Menghadap keatas, melambangkan tujuan yang paling tinggi, Agung lagi Mulia yaitu Allah Swt dengan jalan pengenalan akan dirimu sendiri yaitu diri yang sebenar-benarnya diri (Jati diri sejati).
Warna putih, melambangkan kesucian atau kebersihan. Allah Swt itu suci dan Dia menyukai sesuatu yang suci dan bersih, oleh sebab itu maka hanya jiwa-jiwa yang bersih dan suci sajalah yang akan beroleh Rahmat dan Nikmat dari-Nya.
Pada lambang atau logo terdapat Gambar Setetes Air.
Setetes Air, merupakan perlambang akan Asal Muasal kejadian Insan/ Manusia yang wajib untuk kita ketahui sebelum kita mengadakan pengenalan akan diri yang sebenar-benarnya diri sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah Swt didalam Al-Qur’an :
” Hendaklah kamu, memikirkan akan asal kejadian dirimu ”
” Diri anak Adam itu adalah dosa yang besar, terkecuali Ia mengetahuinya ”
Penciptaan Nabi Adam As :
1. Tanah Asal
2. Tanah dan Zat Air
3. Tanah dan Hawa (Angin)
4. Tanah dan Zat Panas (Api)
5. Bagan (Bentuk)
6. Bentuk Sempurna
7. Jiwa.
Penciptaan Anak Adam/Insan atau Manusia :
1. Rangkaian tanah asal
2. Air Mani laki-laki
3. Pencampuran Sperma
4. Segumpal Darah
5. Tulang belulang
6. Daging Pembungkus
7. Ruh.
Allah Swt berfirman :
” Man Kholakal Insanu Min Tin, atau Man Kholakal Insanu Min Nudfatin ”
Manusia berasal dari Tanah, Tanah berasal dari Air, Air berasal dari Nur (Nur Muhammad) maka Jadilah Ia Air Nur Zat Allah.
Orang bijak mengatakan :
” Ilmu atau pengetahuan manusia itu laksana setitik Air ditengah lautan yang luas, artinya tidak ada apa-apanya dibanding dengan Ilmu Allah ”
Tapi coba kita renungkan baik-baik, mungkinkah akan terjadi lautan yang maha luas itu jika tidak karna dengan setitik Air, akankah ada lautan yang luas itu tanpa diawali dengan hadirnya setitik Air, jawabnya kami serahkan sepenuhnya kepada Anda sekalian.
Dan dari setitik Air itulah kami mengambil Nama ” Air Setitik Community ”.
Pada lambang atau logo terdapat ”Warna Kuning dan Biru”
Warna Kuning melambangkan Kemuliaan.
Warna Biru melambangkan Kedamaian.
Perlambang kedua Warna itulah yang menjadi harapan dan dambaan hidup sebagai perwujudan manisnya buah Ma’rifat, yaitu kemuliaan yang membawa kedamaian hidup dunia dan akhirat.
Mulia Dimata Allah Swt, karna senantiasa mendapat curahan Rahmat dan Nikmat dari-Nya tanpa berkeputusan.
Dan kedamaian yang senantiasa menyertai kita kapan dan dimanapun serta dalam kondisi apapun, hidup kita senantiasa selalu dalam keadaan Nyaman yang senyaman-nyamannya.
Bukankah asal kita Dari Nyaman karna persetubuhan Ibu dan Bapak kita, dan akhir kita pun, saat Ruh dan Jasad berpisah dalam keadaan Nyaman, begitu pula dengan hari-hari kita akan senantiasa didalam kenyamanan karna bersemayamnya Rahmat dan Nikmat disetiap detak jantung, disetiap aliran darah, disetiap pendengaran, penciuman, penglihatan dan perkataan serta disetiap gerak tubuh kita, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, baik siang maupun malam.
Demikianlah Profil Maqom Kedelapan yang mungkin dapat dan layak untuk kami sampaikan dimedia ini, guna memenuhi keinginan dari rekan-rekan dan saudara-saudaraku sekalian.
Semoga bermanfaat bagi kita semua terlebih lagi bagi diri kami pribadi... Amin ya Robbal ’Alamin.
Wassalam,
Airsetitik Team
Bait Renungan
Setiap hari Ia senantiasa menyisir rambutnya,
akan tapi pernahkah terfikirkan olehnya
untuk senantiasa menyisir Akalnya.
Setiap hari Ia berjalan senantiasa membusungkan dadanya,
akan tapi pernahkah terfikir olehnya untuk
senantiasa membusungkan Hatinya.
Setiap hari Ia senantiasa mengkilapkan sepatunya,
akan tapi pernahkah terfikir olehnya untuk
senantiasa mengkilapkan Otaknya.
padahal sesungguhnya ia sendiri jauh dari pada
kebahagiaan itu.
Balikpapan, 16 mei 2009
Air Setitik Community
Balikpapan - Indonesia

















